๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—น: ๐™†๐™š๐™ฅ๐™ง๐™ž๐™๐™–๐™ฉ๐™ž๐™ฃ๐™–๐™ฃ ๐™–๐™ฉ๐™–๐™จ ๐™†๐™ค๐™ฃ๐™™๐™ž๐™จ๐™ž ๐™Ž๐™ค๐™จ๐™ž๐™–๐™ก ๐™‹๐™ค๐™ก๐™ž๐™ฉ๐™ž๐™  ๐™™๐™–๐™ฃ ๐˜ฟ๐™ž๐™ฃ๐™–๐™ข๐™ž๐™ ๐™– ๐™ˆ๐™–๐™จ๐™จ๐™– ๐™™๐™ž ๐™…๐™–๐™ ๐™–๐™ง๐™ฉ๐™–

๐—ž๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฌ๐˜๐—ต,
๐— ๐—ฎ๐˜€๐˜†๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐˜ ๐—œ๐—ป๐—ฑ๐—ผ๐—ป๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ฎ, khususnya Warga DKI Jakarta
๐—ฑ๐—ถ ๐˜๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐˜

Dengan hormat,

Himpunan Psikologi Indonesia DKI Jakarta Raya (HIMPSI Jaya) menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas situasi sosial politik yang akhir-akhir ini terjadi di tanah air, khususnya demonstrasi di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya yang disertai dengan meningkatnya eskalasi kemarahan massa.

Dalam perspektif psikologi, fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi psikososial masyarakat. Kemarahan massa seringkali muncul ketika individu-individu merasa tidak memiliki saluran komunikasi yang efektif untuk menyampaikan aspirasi, sehingga emosi kolektif menjadi dominan. Menurut teori ๐˜™๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ท๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ
(Ted Gurr, 1970), ketidakpuasan muncul ketika terjadi kesenjangan antara harapan masyarakat dengan kenyataan yang ada. Kesenjangan ini dapat memicu rasa frustrasi yang terakumulasi, lalu berkembang menjadi tindakan kolektif.

Proses dinamika yang terjadi dalam situasi demonstrasi, teori ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ท๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ช
(Gustave Le Bon, 1895; Zimbardo, 1969) menjelaskan bahwa dalam kerumunan, individu dapat kehilangan identitas pribadi dan rasa tanggung jawab, sehingga lebih mudah terbawa arus emosi bersama. Hal ini menjelaskan mengapa kemarahan dalam demonstrasi dapat meluas dengan cepat, bahkan di luar kendali individu yang sebelumnya bersikap tenang.

Dari kedua teori tersebut bisa dijelaskan bahwa kemarahan massa bukanlah cerminan sifat agresif masyarakat, tetapi merupakan ekspresi dari kebutuhan akan keadilan, transparansi, dan partisipasi dalam pengambilan keputusan. Karena itu, penting bagi semua pihakโ€”baik pemerintah, aparat, maupun masyarakat sipilโ€”untuk bisa membangun dialog yang sehat, membuka ruang partisipasi, dan mengedepankan penyelesaian non-kekerasan.

HIMPSI Wilayah Jakarta menyerukan beberapa hal:

  1. Mendorong kesadaran bersama sebagai warga Jakarta untuk menurunkan ketegangan yang ada, tidak mudah terprovokasi, saling menguatkan didalam komunitas lingkungan tinggal, dan terlibat dalam upaya penyelesaian masalah sosial dengan cara-cara yang sehat dan konstruktif.
  2. Menghimbau para pengambil kebijakan dan aparat untuk membangun komunikasi yang lebih empatik dengan masyarakat.

Kami percaya bahwa bangsa ini memiliki daya lenting (resilience) yang kuat. Dengan pengelolaan emosi kolektif secara sehat, serta kepemimpinan yang berorientasi pada keadilan sosial, kita dapat melewati masa penuh ketegangan ini menuju masyarakat yang lebih demokratis, damai, dan bermartabat.

Demikian surat keprihatinan ini kami sampaikan, sebagai wujud tanggung jawab moral dan profesi kami terhadap kondisi bangsa. Semoga Indonesia dapat segera menemukan jalan keluar yang damai dan berkeadilan.

Jakarta, 30 Agustus 2025

Atas nama seluruh anggota HIMPSI JAYA,
Ketua Pengurus Wilayah
dan
Ketua Majelis Psikologiย Wilayah

HIMPSI Jaya adalah Himpunan Psikologi Indonesia Wilayah DKI Jakarta Raya. Merupakan organisasi yang menghimpun Psikolog, Ilmuwan Psikologi, dan Praktisi Psikologi yang berpraktik dan atau bekerja di wilayah DKI Jakarta.