X

USER LOGIN

Preloader Lupa Password?

Pengurus HIMPSI JAYA

No Profile
Aline Sahertian

Bendahara Umum

No Profile
Dini Andiani

Divisi 2: Pengembangan Kompetensi

No Profile
Edward Andriyanto Soetardhio

Divisi 1: Pelayanan Masyarakat

No Profile
Erida Rusli

Sekertatis Umum

No Profile
Josephine Rosa Marieta (KOKO)

Divisi 4: Kemitraan

No Profile
Rilzan Chandra

Wakil Ketua II

Rinni Purwaningsih Soegiyoharto

Divisi 3: Komunikasi & Hubungan Masyarakat

Riswandi Alekhine

Divisi 5: Information Technology

No Profile
Tri Iswardani

Wakil Ketua I

Widura Imam Mustopo

Ketua HIMPSI JAYA 2016-2020

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF

Dipublikasikan oleh Himpsi Jaya pada Senin, 27 Maret 2017

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF.

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF : Apa Itu PSYOP?

PSYOP (Psychological Operations) secara generik dimengerti sebagai operasi terencana untuk menyampaikan pesan tertentu kepada suatu kelompok dengan maksud mempengaruhi emosi, motivasi, pemikiran, dan pada akhirnya perilaku dari kelompok target tersebut agar sesuai atau favourable dengan tujuan tertentu.

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF

Keberhasilan PSYOP sangat tergantung pada pemahaman yang akurat mengenai masyarakat yang menjadi targetnya.  Para perencana PSYOP tidak saja membutuhkan akses terhadap data-data terkait dengan kultur, kondisi sosial, dan psikologis, serta data-data “dinamika sosial” terkini yang komprehensif dan up to date, tapi juga memerlukan kemampuan memaknai data-data tersebut di dalam konteks system dan tatanan sosial di mana target dan isu PSYOP muncul.

Dengan demikian menjalankan PSYOP di Indonesia memerlukan data-data yang komprehensif mengenai realitas sosial-politik-kultural-psikologis manusia Indonesia pada umumnya dan kelompok target operasi khususnya, serta kerangka konseptual dan teoritik yang mampu menghubungkan data-data tersebut dalam suatu keterkaitan yang bermakna.

Kemampuan “membaca” Indonesia merupakan syarat penting keberhasilan program-program PSYOP Indonesia di masa mendatang.

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF : Perbedaan Fundamental antra data dengan makna kejadian.

Ada perbedaan yang fundamental antara data atau informasi tentang suatu kejadian misalnya, dengan makna (meaning) kejadian tersebut. Data yang banyak tidak selalu menguntungkan, bila tidak disertai dengan kemampuan memaknai data atau informasi tersebut.  Oleh karena itu perlu dimengerti betul perbedaan antara pemrosesan data (data processing) dengan pemaknaan data (meaning construction).

Memaknai data memerlukan “teori” atau perspektif yang mampu meletakkan kepingan data/informasi di dalam konteks yang lebih luas.  Tanpa teori/perspektif, data atau informasi yang banyak akan tetap tinggal sebagai kepingan-kepingan berserakan tanpa bentuk dan arah yang jelas, bahkan justru membingungkan.

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF : Data yang diperlukan untuk merancang PSYOP.

Demikian pula, dalam bertanya mengenai data apa saja yang diperlukan dan bagaimana merencanakan suatu PSYOP akan diperlukan suatu kerangka teori mengenai perubahan sikap dan perilaku sebagai tujuan utama dari PSYOP. Psikologi dalam hal ini dapat membantu.

Teori-teori dan penelitian dalam disiplin ilmu ini yang terkait dengan komunikasi persuasive, perubahan sikap, perubahan perilaku, dan sebagainya dapat kita temui dalam rentang waktu yang lumayan panjang.

Upaya pencarian model PSYOP yang komprehensif bisa dimulai dengan salah satu teori yang dianggap paling berpengaruh dalam dan merupakan kulminasi dari berbagai insight dari rangkaian penelitian yang panjang.

Teori tersebut adalah Theory of Reasoned Action (selanjutnya TRA) yang dikemukanan oleh Icek Ajzen dan Martin Fishbein (2010). Teori memiliki pendekatannya yang komprehensif dalam memahami perubahan perilaku sehingga dapat memberi gambaran yang jelas tentang data apa saja yang mungkin diperlukan bila kita ingin membangun program untuk mengubah sikap dan perilaku suatu kelompok masyarakat.

TRA telah dikembang selama sekitar 40 tahun dengan akumulasi data penelitian yang luar biasa besar; dapat kita temukan lebih dari 1000 publikasi di jurnal ilmiah yang dikembangkan berdasarkan pendekatan TRA ini.

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF : Teori awal dalam bidang psikologi sosial.

Walaupun teori ini berkembang pada awalnya dalam bidang psikologi sosial, sejumlah insight yang didapat dari teori ini telah menginspirasi dan diterapkan dalam banyak bidang lain seperti kesehatan dan olahraga, pendidikan, pemasaran, perilaku organisasi, dan sebagainya.

Pada tahun 2010 Martin Fishbein dan Icek Ajzen menerbitkan buku berjudul Predicting and Changing Behavior: The Reasoned Action Approach. Setelah melalui revisi berkali-kali teori yang mereka tawarkan mengambil bentuk seperti di bawah ini:

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF. Dalam teori ini perilaku dilihat sebagai sangat terkait dengan “intensi” dan kemampuan (actual) seseorang untuk melakukannya dan ada atau tidaknya hambatan lingkungan bila perilaku tersebut muncul.  Intensi itu sendiri dipengaruhi oleh sikap orang tersebut terhadap perilaku yang hendak diambil, persepsinya terhadap norma-norma yang berlaku, serta persepsinya terhadap kemampuannya untuk melakukan dan kemungkinan hambatan lingkungan.

Pada gilirannya, sikap, persepsi terhadap norma, dan persepsi terhapa kemampuan diri serta hambatan lingkungan dipengaruhi oleh kepercayaan-kepercayaannya (beliefs).  Pada akhirnya kepercayaa-kepercayaan ini disumbang oleh faktor-faktor latar belakang seperti kultur, agama, status sosial ekonomi, kepribadian, pengetahuan, identitas.

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF : Fase perubahan perilaku psikologi sosial.

Dengan kerangka berpikir di atas, upaya perubahan perilaku dapat dilihat sebagai suatu proses yang terencana yang berlangsung dalam tiga fase; elisitasi kepercayaan-kepercayaan (beliefs) yang relevan, perubahan intensi oleh karena perubahan kepercayaan, dan perubahan perilaku melalui perubahan intensi serta peningkatan kemampuan atau penurunan hambatan-hambatan dari lingkungan.

Ide dasar bagi pemilihan metode perubahan tertentu adalah bahwa kepercayaan-kepercayaan (yang salient) harus di ubah.   Fishbein dan Ajzen mengapresiasi metode-metode sepeti komunikasi persuasive, penggunaan argumentasi, framing, partisipasi aktif, modeling, dan diskusi kelompok untuk mengubah perilaku, namun mereka mengidikasikan bahwa metode-metode ini hanya akan memiliki pengaruh bila kepercayaan-kepercayaan (belief) diubah.

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF : Teori dari Fishbein dan Ajzen.

Teori yang dikemukakan oleh Fishbein dan Ajzen ini memberikan kerangka yang cukup komprehensif bagi upaya perubahan perilaku. Apakah dia juga cukup baik digunakan sebagai kerangka PSYOP, khususnya PSYOP di Indonesia, perlu dicermati secara seksama.  Namun, sebagai teori perubahan perilaku teori ini sudah dibuktikan dapat diterapkan dalam berbagai kultur yang berbeda dan untuk isu-isu yang berbeda pula (misalnya pendidikan, kesehatan, pemasaran).

Dari model ini maka data pertama yang harus dimiliki dalam setiap upaya perubahan perilaku adalah data-data faktor latar belakang. Dalam pemasaran data-data ini sangat diperhatikan dan digunakan sepenuhnya dalam iklan misalnya.

Oleh karena itu kita akan menemukan iklan dengan selera yang berbeda tergantung target audiens yang berbeda.  Namun, dalam upaya-upaya perubahan perilaku terkait dengan inisiatif pemerintah hal ini kurang diperhatikan.

Akibatnya, kita sering mendapatkan model-model penyampaian pesan yang seragam untuk target audiens yang berbeda.  Bisa dipastikan pesan yang one size fits all seperti ini tidak akan efektif bagi target tertentu.

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF : Sistimatik dalam realita model PSYOP.

Sebagaimana layaknya sebuah model, model TRA yang generik di atas tentunya melibatkan penyederhanaan realitas. Dalam kondisi riil, setiap kotak dalam model tersebut bisa saja sangat kompleks.  Hal ini perlu disadari karena setiap fenomena sosial yang dapat segera kita amati ibaratnya adalah puncak gunung es yang muncul dipermukaan air, sementara keseluruhan bangunan gunung es tersebut tenggelam di bawah permukaan air dan tidak tampak.

Dalam realitas, kepercayaan bisa saja terdiri dari berbagai kepercayaan yang saling terkait, bukan satu “gelondongan besar” kepercayaan.  Dengan demikian secara skematik dalam realitasnya model tadi bisa saja seperti di bawah ini:

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF.

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF : TRA sebagai alternatif dalam mencari model PSYOP.

TRA adalah salah satu alternati yang bisa dipertimbangkan dalam mencari model PSYOP yang akan dikembangkan, bukan satu-satunya. Paling tidak ia memberi rujukan mengenai faktor-faktor apa yang perlu dipertimbangkan dan data-data apa yang diperlukan dalam suatu upaya mengubah sikap dan perilaku.

Sangat penting dalam model ini adalah “background factors” yang membuat kerangka ini akan sangat fleksibel terhadap realitas sosio-kultural yang berbeda-beda.

Bisa dibayangkan misalnya, untuk menerapkan kerangka ini sebagai model perubahan perilaku, maka kita harus “membaca Indonesia” (dan tentunya secara spesifik daerah-daerah dan masyarakat tertentu yang menjadi target).

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF : Indonesia dalam mencari model PSYOP.

Indonesia sebagai suatu realitas posikologis akan dapat tercermin dalam model ini. Negara Indonesia lahir di penghujung era kolonialisme, didorong oleh arus deras gerakan nasionalisme yang merupakan semangat zaman bangsa-bangsa terjajah ketika itu.

Pada umumnya, gerakan nasionalisme abad 20 juga merupakan perjuangan mengatasi dan mengurus partikularisme lokal. Keberhasilan negara-negara bekas jajahan antara lain tergantung pada apakah ia dapat mengatasi dan mengurus partikularisme lokal ini.

Dalam kasus Indonesia, selain merupakan proyek politik yang rumit, upaya mengatasi dan mengurus partikularisme lokal ini juga merupakan suatu proyek psikologis dan kultural yang luar biasa besar.  Hendak dicoba dalam mega project ini untuk menciptakan perasaan dalam diri populasi yang begitu besar dan beraneka ragam, yang tersebar ribuan kilometer dari Sabang sampai Merauke, bahwa mereka merupakan bagian dari suatu entitas abstrak bernama Indonesia yang sebelumnya tidak pernah ada dan begitu jauh dari pengalaman hidup sehari-hari.

Pada tataran psikologis, eksperimen ini pada hakekatnya meminta, sebagai misal, seorang petani di suatu sudut desa di Aceh untuk membayangkan bahwa mereka terikat dalam satu kebersamaan, bahkan persaudaraan (sebagai saudara sebangsa dan setanah air), dengan seorang nelayan di Papua, yang terpisah jarak ribuan kilometer, berbeda bahasa dan agama, serta tak pernah bertemu satu dengan yang lain.

Indonesia dalam hal ini adalah sebaik-baik contoh dari, meminjam istilahnya Ben Anderson, the imagined community (Ben Anderson (1991). The imagined Community. Verso. New York).

Berhasilkah kita menjaga imaji kebangsaan ini?

Siapakah bangsa atau orang Indonesia hari ini?

Pertanyaan ini – dengan segala macam variannya di seputar identitas nasional, identitas kelompok, hubungan antar kelompok, dan sebagainya – tak pelak lagi merupakan background factors yang sangat penting dalam membangun program dan merencanakan aksi PSYOP.

  • Sebagai pemikiran awal kita bisa menjajagi kekuatan kebangsaan kita melalui beberapa proxy obyektif pemenuhan hak-hak warganegara. Rasa kebangsaaan, atau identitas nasional, terbangun antara lain dari pengalaman hidup sehari-hari dari setiap warga Negara.

Meminjam istilahnya Michael Billig inilah “banal nationalism” yang sehari-hari mereproduksi ke Indonesiaan (Billig, M (1995).  Istilah “banal nationalism: yang digunakan Billig merujuk kepada representasi sehari-hari dari “the nation” dalam simbol-simbol yang membangun “a shared sense of national belonging”.  Saya meminjam istilah ini untuk merujuk juga pengalaman konkrit sehari-hari dari warganegara terkait dengan pemenuhan hak-hak mereka sebagai warga suatu bangsa.).

Peringatan 17 Agustus dan peringatan-peringatan yang lain adalah momen-momen reflektif yang penting.  Namun, juga sangat penting adalah pengalaman sehari-hari sebagai warga Negara Indonesia; sejauh mana hak-hak sebagai warga Negara terpenuhi; pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya.

Pengalaman-pengalaman banal (yang positif) sebagai warga negara ini merupakan bagian integral dari proses reproduksi keindonesiaan.  Ia secara akumulatif menjadi pupuk bagi tumbuh suburnya rasa kebangsaan atau identitas nasional.

Pada saat yang sama, keberhasilan Negara memenuhi hak-hak warganegara secara langsung atau tidak langsung akan menentukan bagaimana posisi atau “standing” bangsa tersebut di antara bangsa-bangsa di dunia.

Bagaimanakah pengalaman banal warga Negara Indonesia hari ini?  Beberapa data di bawah ini dapat memberikan gambaran umum.

Salah satu indikator penting dari kondisi warga suatu negara adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM).  Pada tahun 2014 IPM Indonesia adalah 68.4.  Capaian ini menempatkan Indonesia pada peringkat 108 dunia. Di antara Negara-negara ASEAN Indonesia berada di bawah empat besar ASEAN dengan perbedaan yang lumayan jauh sebagaimana terlihat pada table di bawah ini:

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF

Tabel 1. Peringkat Capaian IPM 2014 Negara-negara ASEAN

 

  1. Dalam konteks kesiapan sumberdaya manusia menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia (MEA), komponen pendidikan dari IPM menarik untuk dicermati lebih jauh.  Komponen pendidikan dalam IPM terdiri dari rata-rata lama sekolah (average years of schooling) dan harapan lama sekolah (expected Years of schooling).  Pada tahun 2014 rata-rata lama sekolah bangsa Indonesia adalah  7.6 tahun dan harapan lama sekolah 13.0 tahun.  Artinya, pada tahun 2014 rata-rata manusia Indonesia yang berusia 25 tahun ke atas hanya mengenyam pendidikan selama 7.6 tahun saja.  Setara dengan kelas 2 Sekolah Menegah Tingkat Pertama.
  2. Pada tahun 2013, capaian Index Pendidikan Indonesia adalah 0.603.  Capaian ini sama dengan dengan capaian tahun sebelumnya.  Bahkan, sesungguhnya capaian Index Pendidikan Indonesia relatif rata (flat) sejak beberapa tahun lalu sebagaimana tampak dari gambar di bawah ini:
MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF

Tren Capaian Indeks Pendidikan Indonesia 1980 – 2013

Di balik angka-angka di atas terdapat ketimpangan kualitas hidup manusia Indonesia sehari-hari.  Ketimpangan ini termanisfestasi dalam setiap tahap perkembangan manusia Indonesia, dari Usia Dini sampai dengan Usia Dewasa.

Pada usia dini tantangan perkembangan untuk kelahiran yang aman bagi ibu dan anak, awal yang sehat bagi anak, serta awal yang baik bagi perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak belum dapat dipenuhi dengan merata.

Terdapat kesenjangan yang luar biasa besar diantara warganegara miskin dan saudara-saudaranya yang berkecukupan.

  • 10% anak-anak Indonesia dari keluarga miskin masih mengalamai kekurangan gizi dan sulit mendapatkan akses pendidikan usia dini.
  • Sekitar 21% dari total balita (sekitar 930,000 anak) yang hidup dalam rumah tangga dengan “moderate calories deficiency” terpapar kekurangan gizi.
  • 56% anak-anak ini tinggal di pedesaan.
  • Sekitar 89% anak usia 3-6 tahun dari kelompok termiskin ini (sekitar 2.7 juta anak) tidak memiliki akses pendidikan usia dini dalam radius 6 km.

Pada usia sekolah (7 -18 tahun) anak-anak Indonesia dari kelompok miskin banyak yang tak mampu untuk bersekolah. Biaya pendidikan masih teralu mahal bagi orang tua mereka. Bagi mereka yang bersekolah, tingkat kemampuan mereka berada jauh di bawah anak-anak seusia mereka dari keluarga yang lebih mampu.

  • Sekitar 22% anak-anak dari kelompok 10% termiskin (sekitar 430,000 anak) tidak bersekolah lagi. 72% tinggal di pedesaan.
  • Kelompok usia 19 – 24 tahun seharusnya berpartisipasi aktif dalam pendidikan, pelatihan, dan lapangan kerja.
  • Namun 95% anak-anak dari keluarga 10% termiskin di Indonesia usia 19-24 tahun tidak bersekolah lagi.
  • Hanya 16% lulus SMA dan 2% yang melanjutkan ke perguruan tinggi.
  • Sekitar 37% (1.1 juta) dianggagap tidak aktif atau “idle”, 66% dari mereka tinggal di pedesaan.

Ketimpangan-ketimpangan di atas dapat pula kita mengerti sebagai ketimpangan antar wilayah (wilayah Indonesia bagian barat Vs. Indonesia bagian timur); antar provinsi, serta antar kabupaten di dalam provinsi.

Misalnya saja, Pada tahun 2014 DKI Jakarta memiliki capaian IPM 78.39, sementara Provinsi Banten tetangganya secara umum capaiannya hanya 69.89.  Kesenjangan sekitar 10 poin antara ibukota dan provinsi tetangganya ini merupakan indikasi awal ketimpangan di Indonesia.

Bila kita masuk ke Provinsi Banten dan membandingkan capaian IPM antar kota dan kabupatennya, maka akan kita temui kesenjangan yang lebih besar lagi.

Kota Tangerang Selatan memiliki capaian IPM 79.17, sedangkan IPM Kabupaten Lebak hanyalah 61.64.

Perbedaan lebih dari 17 poin.  Bila dilihat dari capian IPM ini, sudah sejak lama kualitas hidup anak-anak Kota Tangerang Selatan tampaknya lebih mirip dengan kualitas hidup anak-anak Jepang secara umum sebagaimana tampak dari tren capaian di bawah ini:

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF

Tren Capaian IPM 2011 – 2014

  1. Kita dapat teruskan perbandingan untuk seluruh provinsi di Indonesia dan turun tidak hanya antar kabupaten, tapi bahkan juga antar kecamatan di dalam kota dan kabupaten. Hal ini menunjukkan kesenjangan kualitas hidup yang merata; di Indonesia hari ini warganegara hidup dengan kualitas yang berbeda, tergantung di mana mereka tinggal.
  2. Ketimpangan-ketimpangan yang mencerminkan perbedaan kualitas hidup antar kelompok warganegara dapat dengan mudah menjadi sumber ketidakpuasan terhadap Negara. Terlebih lagi, bila ketimpangan-ketimpangan tersebut dipersepsi sebagai akibat dari ketidak pedulian Negara untuk mengurus kelompok warganegara tertentu.

Ketidakpuasan yang pada mulanya merupakan ketidakpuasan terhadap penyelenggaraan Negara (civic discontent), dengan sangat mudah bergulir menjadi ketidakpuasan terhadap Negara.  Ekspresi ketidakpuasan inipun dengan sangat mudah bergulir dari ekspresi yang damai menjadi ekspresi-ekspresi yang penuh kekerasan.

Di daerah-daerah perbatasan dengan Negara lain, warganegara Indonesia membandingkan kualitas hidup mereka dengan tetangganya di seberang.  Wilayah perbatasan ini sangat unik karena di sana batas fisik geografis sebagai batas-batas eksternal (external boundary) berimpit dekat dengan rasa kebangsaan sebagai batas-batas psikologis (internal boundary) dari kebangsaan kita.

Hampir secara harfiah, kebangsaan Indonesia dihadapkan pada plebisit setiap hari dengan dibandingkan dengan apa yang ada dan terjadi di Negri sebelah.

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF : Komunikasi adalah jantung dari PSYOP.

Jantung program dan aksi PSYOP adalah komunikasi. Oleh karena komunikasi hari ini mengubah secara luar biasa cara kita berkomunikasi (dan cara hidup manusia secara keseluruhan), maka program dan aktivitas PSYOP juga akan mengalami revolusi.

Bisa dibayangkan revolusi dalam teknologi komunikasi juga akan mempengaruhi koordinasi, implementasi, dan analisa/monitoring/evaluasi efektivitas PSYOP.  Suatu database dapat dibangun mengenai wilayah-wilayah target PSYOP yang kemudian dapat di akses oleh para komandan PSYOP di manapun mereka berada.  Data-data “background factors” yang demikian penting dapat dengan mudah dibuat tersedia.

MENCARI Perspektif Psikologi Sosial MODEL PSYOP YANG KOMPREHENSIF : Perlunya pendidikan PSYOP untuk para Komandan di lapangan.

Bersamaan dengan kemungkinan tersedianya data dengan mudah, diperlukan pula pengertian yang cukup untuk memahami data tersebut. Oleh karena itu perlu dipikirkan pendidikan PSYOP yang komprehensif untuk para komandan di lapangan.

 

Ditulis Oleh: Abdul Malik Gismar.

Associate Director, Paramadina Graduate School. Untuk HIMPSI Jaya.

 

Artikel sebelumnya membahas tentang: FAKTOR LINGKUNGAN, DAN PSIKOLOGIS DALAM MEMAHAMI SITUATION AWARENESS PENERBANG.

 

Tentang Penulis

Himpsi Jaya

Admin Resmi untuk Website dan Media Sosial HIMPSI Jaya

Tinggalkan Balasan