X

USER LOGIN

Preloader Lupa Password?

Pengurus HIMPSI JAYA

No Profile
Aline Sahertian

Bendahara Umum

No Profile
Dini Andiani

Divisi 2: Pengembangan Kompetensi

No Profile
Edward Andriyanto Soetardhio

Divisi 1: Pelayanan Masyarakat

No Profile
Erida Rusli

Sekertatis Umum

No Profile
Josephine Rosa Marieta (KOKO)

Divisi 4: Kemitraan

No Profile
Rilzan Chandra

Wakil Ketua II

Rinni Purwaningsih Soegiyoharto

Divisi 3: Komunikasi & Hubungan Masyarakat

Riswandi Alekhine

Divisi 5: Information Technology

No Profile
Tri Iswardani

Wakil Ketua I

Widura Imam Mustopo

Ketua HIMPSI JAYA 2016-2020

FAKTOR EMOSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENERBANG

Dipublikasikan oleh Widura Imam Mustopo pada Rabu, 22 Maret 2017

FAKTOR EMOSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENERBANG. Kemampuan penerbang dalam membuat pertimbangan dan mengambil keputusan sangat penting dalam keselamatan penerbangan. Dapat dikatakan bahwa pengambilan keputusan merupakan salah satu mata rantai yang penting dalam tindakan penerbangan. Lebih-lebih bila penerbang menghadapi situasi “emergency” (kedaruratan).

Hasil analisis FAA (Federal Aviation Administration) seperti dilaporkan Jensen dan Bennel (1977) menunjukan bahwa kesalahan penerbang dalam membuat pertimbangan (judgment) menyumbang lebih dari 50% terjadinya kecelakaan fatal pada tahun 1970 – 1974.

Sedangkan penelitian Biro Keselamatan Transportasi Amerika Serikat atau NTSB (National Transportation Safety Bereau) pada kecelakaan penerbangan antara tahun 1983 – 1987 menunjukan 47% karena sebab kesalahan judgement dan pengambilan keputusan (Orasanu, 1994).

FAKTOR EMOSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENERBANG

FAKTOR EMOSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENERBANG

Tentunya kegagalan penerbang dalam bertindak tidak serta merta hanya karena pertimbangan atau pengambilan keputusan yang keliru.  Terdapat sejumlah faktor psikologis lainnya yang perlu diperhatikan sebagai faktor yang ikut bertanggung jawab terhadap kegagalan tersebut.

Dalam Artkel ini akan diulas faktor psikologis berupa gangguan emosi yang dapat menghambat proses pengambilan keputusan,  dan bagaimana sebaiknya upaya pencegahannya.

FAKTOR EMOSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENERBANG : Pengambilan Keputusan Penerbang

Prinsip manajemen mekanistik dan tuntunan SOP yang ketat seperti yang berlaku umumnya di lingkungan penerbangan tentunya memiliki kekuatan dan kelemahan dalam manajemen operasi penerbangan.

Terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan, salah satunya adalah efektivitas penerbang (dan awak pesawat) dalam mengambil keputusan, terutama ketika dihadapkan pada situasi kedaruratan termasuk menghadapi lingkungan cuaca yang situasinya sering berubah dan tak dapat diramalkan 100% tepat.

Hasil penyelidikan Wickens & Flach (1988) mendapatkan gambaran tiga karakteristik umum dari pola pengambilan keputusan penerbang.

Pertama,

penerbang harus mengevaluasi sejumlah informasi untuk menilai situasi yang sedang dihadapinya.

Kedua,

informasi yang diperoleh tentang situasi yang sedang dihadapi merupakan sesuatu yang probabilistic, karena masukan informasi untuk menilai situasi sering tidak reliable (misalnya, ramalan cuaca hanya memiliki ketepatan prediksi sebesar 20%).  Sehingga konsekuensi dari tindakan menjadi tidak pasti.

Ketiga,

Adanya unsur untung rugi (sering bersifat ekstrim) dalam setiap pengambilan keputusan.  Misalnya, menghadapi cuaca buruk, bila berhasil melanjutkan penerbangan akan mendapatkan keuntungan (finansial maupun kepuasan psikologis) yang besar, namun mempunyai risiko kecelakaan yang besar pula bila keputusan yang diambil saat itu keliru.

Sehubungan dengan informasi yang diperlukan untuk menilai situasi baik yang berkaitan dengan keperluan navigasi, keadaan cuaca, maupun kegagalan instrumen bisa jadi sering kurang reliable, maka para ahli mengembangkan pola heuristic agar penerbang dapat lebih efektif memecahkan masalah dan mengambil keputusan.

Kahneman & Rasmussen (dalam Wickens & Flach, 1988), cara tersebut dapat membantu penerbang dalam mendiagnosa situasi tanpa membutuhkan effort mental yang terlalu besar.

Dari uraian di atas, tampak bahwa disamping profesi penerbang dituntut untuk bertindak sesuai prosedur yang ketat, mereka juga menghadapi situasi-situasi yang tak berstruktur dimana informasi yang diperoleh sering tidak reliable.

Terutama bagi para penerbang militer yang misi tugasnya sering berhubungan dengan keterbatasan informasi ataupun sifat misinya yang tidak memungkinkan memperoleh informasi yang optimal.

FAKTOR EMOSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENERBANG : Emosi dan Stres Psikologis

Setiap orang tentunya tidak asing dengan beberapa simptom emosi, seperti gugup, jantung berdebar, telapak tangan berkeringat, dsb.  Kondisi tersebut jelas adalah reaksi emosi dan umumnya merupakan ciri-ciri dari emosi rasa takut atau rasa marah yang ekstrim.

Namun bisa juga kondisi tersebut disebabkan emosi yang tak terlalu ekstrim, seperti rasa cemas atau khawatir, bahkan mungkin saja muncul karena pengalaman emosi yang menyenangkan seperti luapan kegembiraan.

Jadi pada hakekatnya, emosi dapat bernilai negatif  (marah, takut, cemas, dsb.) dan positif, seperti rasa gembira, puas, dsb.

Dari sudut pandang psikologi, apapun bentuk gejala emosi pada dasarnya perlu mendapatkan perhatian karena dampaknya dapat berakibat fatal bagi penerbang sebagai operator khususnya dalam proses pengambilan keputusan.

Situasi yang dihadapi seorang penerbang sering melibatkan situasi yang membebani seperti pada saat lepas landas, mendarat, atau menghadapi cuaca buruk maupun kondisi emergency lainnya.

Umumnya situasi tersebut berhubungan dengan situasi stres dari luar.  Namun, situasi stres yang melibatkan emosi sering dikaitkan dengan stres psikologis yang berasal dari dalam diri, dan hal ini sering berdampak kuat pada performance seseorang.

Dikatakan oleh Lazarus (1976),

Stres yang mengganggu adalah bila melibatkan reaksi emosi karena berefek kumulatif bila tidak segera diatasi dan dapat menghambat tampilan kerja (performance).

Sumber stres yang berdampak pada kondisi emosi misalnya terjadi pada seseorang yang harus memilih sejumlah alternatif tindakan yang saling bertentangan, atau berkaitan dengan kekhawatiran pada hal-hal yang tidak diketahuinya bila ia salah dalam mengambil keputusan, atau akan kehilangan muka (malu) ataupun harga diri bila mengambil keputusan yang keliru.

Seringkali sumber stres ini mempunyai dampak lebih luas dibandingkan dengan situasi stres dari luar ataupun stres kognitif lainnya.

Berkaitan dengan kesalahan yang paling sering terjadi dalam pengambilan keputusan bila terjadi reaksi stres emosi yang disebut hypervigilance atau kewaspadaan yang berlebihan (Janis, 1982).

Reaksi ini muncul seperti halnya bila kita panik yang analog dengan reaksi alarm dari Selye pada sindroma adaptasi umum (general adaptation syndrome) yang timbul ketika seseorang menghadapi stres yang kuat.

Kondisi ini dapat memberikan efek yang menghambat berfungsinya kognisi individu dan tentunya memberikan konsekuensi pada kekeliruan dalam pengambilan keputusan.

 FAKTOR EMOSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENERBANG : Emosi Stres, Persepsi dan Perhatian

Emosi stres kuat yang menyebabkan hypervigilance umumnya ditandai oleh kesiagaan yang berlebihan, dan hal ini dapat mengakibatkan diffused attention atau perhatian yang menyebar dan tak terfokus.

Kondisi ini merupakan salah satu sumber inefisiensi kognitif yang dapat berakibat pada kegagalan dalam pengambilan keputusan yang efektif yang muncul dalam bentuk judgment yang buruk dan keputusan impulsif yang maladaptif.

Janis (1982) mengemukakan beberapa inefisiensi kognitif yang berhubungan dengan diffused attention antara lain  :

  • Gagal memperoleh informasi yang dapat dipercaya (reliable) untuk melakukan urutan tindakan yang efektif dalam menghadapi ancaman.
  • Gagal mengingat apa yang harus dilakukan ketika situasi ancaman yang dihadapi sama seperti kejadian pada waktu lalu.
  • Terpaku terhadap hal-hal yang dapat berakibat buruk.
  • Cepat berpindah perhatian pada beberapa bentuk ancaman yang kadang tidak otentik atau tidak penting.
  • Tidak dapat membedakan perhatian terhadap berbagai jenis ancaman – relevan maupun tidak relevan – sehingga banyak menghabiskan waktu bagaimana melakukan tindakan yang dapat menyelamatkan diri.
  • Terlalu berlebihan dalam memperhatikan ancaman.

Emosi stres pada kenyataannya tidak hanya dapat mengakibatkan diffused attention tapi juga hambatan dalam mempersepsi situasi lingkungan dalam upaya memperoleh informasi penting.

Gejala yang dapat diidentifikasi ketika seorang penerbang mengalami stres emosi saat menghadapi situasi emergency dapat berupa penyempitan penglihatan (tunnel vision), terbatasnya rentang pengamatan dan kegagalan dalam mengamati informasi kritis (Orasanu, 1994).

Konsekuensi dari kondisi-kondisi di atas sangat berpengaruh pada perolehan data informasi penerbang sebagai dasar pertimbangan (judgement) atau penilaian situasi sebelum keputusan diambil untuk melakukan tindakan yang tepat.  Visualisasi gangguan emosi stres yang mempengaruhi persepsi dan perhatian dapat di lihat pada Gambar 1.

FAKTOR EMOSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENERBANG : Emosi Stres dan Judgment

Aspek lainnya yang cukup kuat dipengaruhi oleh pengalaman stres emosi adalah fleksibilitas berfikir yang sangat berpengaruh pada kemampuan seseorang dalam mempertimbangkan alternatif  tindakan yang paling efektif untuk mengatasi situasi ancaman.  Secara teoritik sebenarnya judgement rentan terhadap gangguan emosi  (Lihat gambar 2).

Kognisi                                                                       Afektif/Emosi

Pengetahuan, Potensi intelektual                            Judgement             Stres, Emotional fatigue

 

Bilamana emosi stres mulai menyempitkan perhatian dan fleksibilitas berpikir, biasanya penerbang akan mengambil beberapa alternatif tindakan, a.l.;

  • Penerbang berusaha mengatasi situasi dengan terpaku pada satu set prosedur yang biasanya termudah.
  • Penerbang mempertimbangkan tindakan yang diyakini secara subjektif tanpa didasarkan atas pemikiran yang logis dan realistis.
  • Penerbang terpaku untuk mengandalkan cara atau alternatif tindakan yang lebih sulit karena sesuai pengalamannya bila tidak dilakukan akan berakibat fatal.
  • Penerbang membuat pilihan tindakan yang prematur.

Mengamati gangguan emosi yang dapat berakibat negatif pada pengambilan keputusan tentunya tetap mengacu pada kondisi kepribadian individu penerbang.

Dikatakan olah Janis (1982), bahwa emosi stres yang berpengaruh negatif pada pengambilan keputusan tergantung pada kondisi ego strength, kepercayaan diri, kemampuan pemecahan masalah, kapasitas kemampuan menjalin hubungan sosial, dan kondisi kecemasan neurotik yang bersifat kronis.

Sehingga dalam mengevaluasi proses kegagalan pengambilan keputusan perlu dalam rangka penyelidikan suatu kejadian tetap memperhitungkan keperibadian sebagai variabel intervening agar evaluasi dapat dijaga objektivitasnya.

Artikel sebelumnya membahas tentang: PSIKOLOGI PENERBANGAN DALAM PERSPEKTIF HUMAN FACTORS : UPAYA MEMAHAMI SEBAB-SEBAB KECELAKAAN PENERBANGAN.

 

Ditulis Oleh : Widura Imam Mustopo

Ketua HIMPSI Jaya

Kesimpulan FAKTOR EMOSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENERBANG.

Sebagai penutup tulisan ini dapat kita tarik suatu kesimpulan bahwa dalam mengamati gangguan emosi ternyata ada sejumlah faktor psikologis yang perlu diperhatikan yang dapat memberikan kontribusi terhadap kegagalan pengambilan keputusan.

  • Pertama, harus disadari bahwa gangguan emosi dapat muncul dari situasi atau peristiwa yang ringan bahkan positif sampai yang menekan kuat.

Apapun bentuk gejala emosi pada dasarnya perlu mendapatkan perhatian karena dampaknya dapat berakibat fatal bagi penerbang sebagai operator khususnya dalam proses pengambilan keputusan.

  • Kedua, gangguan emosi dalam bentuk stres emosi dapat menghambat kemampuan kognitif dalam bentuk meningkatnya kewaspadaan yang berlebihan yang dapat memberikan konsekuensi pada hambatan perhatian, dan menyempitnya pengamatan seseorang.
  • Dan terakhir, kondisi emosi stres juga menghambat kemampuan penerbang melakukan penilaian situasi sebagai dasar pertimbangannya untuk bertindak secara efektif.

 

Kepustakaan  :

Beaty, D. (1979).  The Human Factor in Aircraft Accidents.  London: Secker & Warburg, Camelot Press Ltd.

Janis, I.L., (1982).  Decision making Under Stres. Dalam, Goldberger, L. & Breznitz, S. Handbook of Stress, Theoretical and Clinical Aspects.  New York:  Macmillan Publishing Co., Inc.

Kaempf, G.L., & Klein, G. (1992). Aeronautical Decision Making : The Next Generation.  Dalam, Johnston, N., McDonald, N., & Fuller, R. Aviation Psychology in Practice.  Vermont: Ashgate Publishing Company.

Lazarus, R.S., (1976).  Patterns and Adjustment, 3’rd ed., Tokyo:  MacGraw Hill Kogakusha Ltd.

Orasanu, J.M., (1992).  Shared Problem Models and Flight Crew Performance. Dalam, Johnston, N., McDonald, N., & Fuller, R. Aviation Psychology in Practice.  Vermont : Ashgate Publishing Company.

 

 

Tentang Penulis

Widura Imam Mustopo

Ketua HIMPSI Jaya Periode 2016-2020

Tinggalkan Balasan